26 Jan 2024

Code Red

 

Hallo.. kesayangannya aku yang kece badai. Moga sehat2 slalu yaa. Mumpung lagi rajin upload nih.

Kali ini kita kenalan dulu dengan Code Red.

Code Red atau kode merah adalah kode yang mengumumkan adanya ancaman kebakaran di lingkungan puskesmas (api maupun asap), sekaligus mengaktifkan tim siaga bencana puskesmas untuk kasus kebakaran.

Kapan sih Code Red perlu digunakan?? Yang pasti Code Red digunakan dalam situasi darurat kebakaran. Kode ini mengindikasikan adanya ancaman kebakaran yang memerlukan tindakan cepat untuk melindungi pasien, staf medis, dan fasilitas kesehatan

Naaah.. jika terjadi situasi yang mengharuskan pengaktifan code red, kita jangan sampai panik ya, kenali juga langkah-langkahnya. Simak yuuk.. cekidot.. 

ALUR CODE RED PUSKESMAS RAWAT INAP WAY KANDIS: 

Jika terdapat kejadian kebakaran



1. Petugas mengaktifkan code red dengan cara mengumumkan melalui pengeras atau sirene


2. Petugas  mengambil helm dan bertugas sesuai dengan warna helm yang digunakan.



* Petugas berhelm Merah bertugas memadamkan api,Menemukan Titik Api dan memutuskan aliran listrik jika terjadinya kebakaran berkaitan dengan korsleting listrik. Petugas terdekat segera mengambil APAR dan berusaha memadamkan api.


* Petugas berhelm Kuning bertugas mengevakuasi, melakukan pasien, staff dan pengunjung. Evakuasi mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul


* Petugas berhelm Biru bertugas mengamankan alkes, 

*Petugas berhelm Putih bertugas mengamankan dokumen penting.

3. Setelah kebakaran dapat dikendalikan, dan situasi kembali aman, petugas melaporkan kepada pimpinan.

Tuuuh sekelumit info tentang code red, jujur aja sih, kenal istilah code red juga karena proses akreditasi. Hehhee

Perlu juga buat simulasi kejadian kebakaran di tempat kerja, agar jika terjadi kebakaran, kita paham harus melakukan apa. 



Niih sebagian foto-foto kami waktu simulasi kebakaran di Puskesmas Rawat Inap Way Kandis.. seruuuu tauu. Actingnya juga oke banget, gak kalah sama drakor deeh. Hahahha...


Hubungan Antara Stunting Dan Kesehatan Lingkungan

Istilah Stunting pasti sudah sering kita dengar yaa.. Apalagi pemerintah juga sedang concern melakukan pencegahan stunting, dengan berbagai macam kegiatan dan program-program kesehatan.

Buat yang belum paham apa itu stunting, simak dulu yuuk. Stunting adalah suatu masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. 

Yang artinya masalah stunting / balita pendek itu mengindikasikan adanya masalah  gizi kronis yang dipengaruhi oleh kondisi ibu, masa ketika janin/dalam masa kehamilan, dan masa bayi/balita, termasuk penyakit yang diderita selama masa balita.

Akibatnya adalah balita yang mengalami gizi buruk tidak hanya akan terdampak dalam jangka pendek, yang apabila tidak diatasi dengan benar juga akan berdampak dalam jangka panjang dalam siklus kehidupannya. Dan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah  teramat rentan terhadap kematian, masalah perkembangan mental, serta penyakit kronis ketika nanti dewasa. 

Trusss.. hubungannya stunting dengan kesehatan lingkungan itu apa?? Ya pasti ada donk gaess.

Jika kondisi sanitasi lingkungan buruk, kemudian konsumsi air minum yang tidak sehat dan perilaku yang tidak hygienis, jelas  menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya penyakit diare pada bayi atau balita. Naaah... Penyakit diare yang terus menerus atau terjadi berulang-ulang pada bayi/balita akan menyebabkan kekurangan gizi. Kenapa..?? Hal ini bisa terjadi dikarenakan oleh rusaknya mukosa usus oleh bakteri fecal yang mengakibatkan terjadinya gangguan absorbsi zat gizi.

Di tahun 2003 UNICEF mengemukakan bahwa Peningkatan cakupan sanitasi dan perilaku hygiene sebesar 99% dapat membantu menurunkan insiden diare sebesar 30% dan menurunkan prevalensi stunting sebesar 2,4%.

  Lalu kita sebagai masyarakat harus ngapain? Pertanyaan itu pasti yang ada di benak kita. Mudah saja sih, ada hal-hal yang dapat dilakukan di tingkat rumah tangga antara lain :

1. Menjaga kebersihan rumah dan sekitarnya. Bersih dalam arti bebas dari pencemaran kotoran manusia (bayi) dan hewan peliharaan, baik terhadap permukaan lantai, air, pakaian, alat-alat masak / makan dan lain-lain.

2. Menerapkan praktek Baby Wash, yakni segala kotoran hewan dan manusia harus dibuang secara aman tanpa kecuali kotoran bayi termasuk diapers bayi harus di buang secara aman. Dan yang paling penting adalah anak balita harus diamankan dari resiko terpapar atau menelan sesuatu yang terkontaminasi kotoran hewan / manusia.

3. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Tiap rumah tangga wajib menyediakan sarana CTPS dengan air mengalir dan sabun di dekat WC dan dapur. Dan patuh melakukan CTPS terutama pada waktu-waktu penting, seperti : setelah BAB, setelah membersihkan kotoran bayi, sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan dan sebelum menyusui, setelah memegang dan membersihkan sampah, setelah memegang hewan peliharaan, setelah berkebun.

4. Mengolah dan menyimpan air minum dengan aman. Dengan cara mempraktekkan hal-hal penting berikut: 

* Kran air harus selalu dalam keadaan bersih dan tidak terpapar resiko pencemaran yang berasal dari WC, hewan peliharaan, air limbah.

* Apabila air ditampung dalam wadah penyimpanan, harus dalam keadaan tertutup rapat, dan tidak memungkinkan tangan dicelupkan kedalamnya serta bersihkan wadah secara rutin.

* Jika harus dipindahkan, air tidak boleh dalam keadaan terbuka.

* Air yang belum memenuhi kualitas  siap minum harus dimasak terlebih dulu sampai mendidih.

* Wadah yang digunakan untuk menyimpan air minum harus dibedakan dari wadah untuk keperluan lainnya dan dibersihkan setiap hari.

5.  Menjaga kebersihan makanan dengan cara melakukan dan memperhatikan: 

* Dapur dan area tempat pengolahan makanan harus selalu bersih dari serangga, tikus dan hewan lainnya.

* Biasakan mencuci sayur dan buah menggunakan air yang bersih dan mengalir sebelum dimakan.

* Tangan orang yang memasak dan perangkat  masak dan peralatan makan harus bersih.

* Pisahkan antara  makanan yang sudah matang dan bahan mentah.

* Masaklah bahan makanan hingga matang, terutama untuk daging, telur dan seafood.

* Simpan makanan matang dalam suhu yang aman dan tetutup agar terlindung dari debu/kotoran, cicak,  lalat dan serangga lainnya.

* Hindari bayi yang tidak menghabiskan makanannya

* Selalu gunakan bahan makanan dan air yang aman.

Naaah.. udah sedikit lebih ngerti kan kenapa kesehatan lingkungan harus diupayakan, apalagi dalam program pencegahan stunting. 




25 Jan 2024

Pengelolaan dan Pengangkutan Limbah Medis

Salah satu tugasnya Sanitarian atau petugas Kesehatan Lingkungan itu yaa pengelolaan limbah medis di fasyankes. Pengelolaannya itu bisa dilakukan secara internal maupun eksternal. Emang boleeeh?? Ya pasti bolehlah, yang penting ada ijinnya, ada MoUnya donk. Hehehe.. biar gak bermasalah kudu lengkap semuanya.

Buat yang penasaran apa itu limbah medis? Untuk apa dikelola dan lain-lainnya, simak yuuuk.. tu wa ga pat..

Limbah medis adalah bahan buangan yang dihasilkan dari kegiatan pelayanan kesehatan antara lain berupa limbah benda tajam infeksius seperti jarum suntik, botol spuit yang pecah, nal dll harus disimpan di dalam wadah yang aman, yaitu di  dalam safety box. Sedangkan limbah infeksius seperti bekas kasa perban, masker, hand scoon, pot dahak dll harus dimasukkan ke dalam plastik sampah berwarna kuning, yang disediakan di tiap-tiap ruangan pelayanan penghasil limbah. 

Naah.. kalo Pengelolaan limbah medis itu apa sih?  yaitu rangkaian kegiatan mencakup segregasi (pemilahan), pengumpulan, pengangkutan, penyimpanan, pengolahan dan penimbunan limbah medis.

 Yang tujuannya adalah untuk : 

1. Melindungi pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan masyarakat sekitar puskesmas, dari penyebaran infeksi dan cedera.

2. Membuang bahan-bahan berbahaya (B3) dengan aman

3. Puskesmas menjadi tempat yang aman dan nyaman.

Sebelum limbah medis diangkut ke tempat pengolahan, pastinya kan dikumpulkan dan disimpan dulu tuh, dimana?? Yang jelas tidak boleh disimpan di sembarang tempat, apalagi tempatnya sering diakses oleh orang ramai. Gak boleh banget yaa.. jadi untuk keamanan, limbah medis harus disimpan di dalam TPS. Apa itu TPS?? TPS singkatan dari Tempat Penyimpanan Sementara yang digunakan untuk menyimpan limbah B3, untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan sehingga potensi bahaya terhadap lingkungan dapat dihindarkan.

Di puskesmas tempat aku bertugas juga dilengkapi dengan TPS berupa cold storage dan container tertutup.

TPS (Tempat Penyimpanan Sementara) yang dimiliki oleh puskesmasku adalah berupa cold storage berkapasitas 0,318 m3 untuk menyimpan limbah medis infeksius,  dan sebuah container tertutup untuk penyimpanan limbah B3.

Adapun pengangkutan limbah medis dijadwalkan setiap bulan, dan diangkut menggunakan armada angkut oleh PT. Artama Sentosa Indonesia, yang selanjutnya dilakukan pengolahan dengan metode incenerasi. 

Jumlah limbah yang diangkut akan dilaporkan oleh Sanitarian puskesmas, dalam hal ini yaa aku sendiri,  melalui aplikasi Si Raja Limbah, sehingga keluar manifest elektronik, sebagai bukti bahwa limbah telah diterima dan  dikelola.








Penyelidikan Epidemiologi DBD

Januari identik dengan musim penghujan, sampai-sampai ada singkatan lucu-lucuan tentang nama Januari, kata orang Januari itu hujan turun tiap hari. Hahhaha.. tapi bener lho gaess.. awal 2024 diikuti dengan hujan hampir tiap hari. 

Tau kaan.. kalau berbarengan dengan musim penghujan itu, ada bahaya yang mengintai kita. Siapa lagi kalau bukan si Aedes Aegypti, si mungil penular Demam Berdarah Dengue. 

Naah.. mulai siap-siap deh para petugas, jika dapat informasi tentang adanya kasus DBD, langsung gercep ditindak lanjuti dengan melakukan PE (penyelidikan epidemiologi).

PE itu ngapain aja sih?

Yuuuk deh, aku bantuin jelasin. PE itu adalah suatu penyelidikan yang dilakukan untuk mengenal sifat-sifat penyebab, sumber dan cara penularan serta faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya wabah. Dalam hal ini, petugas akan mencari sumber perkembangbiakan jentik nyamuk di lingkungan dalam dan luar pada rumah kasus. Eeeits bukan cuma rumah kasus aja ya, tapi radius 100 meter dari rumah kasus juga dilacak. 

Selain itu, petugas juga mencari informasi apakah ada penderita DBD lainnya dalam kurun waktu yang berdekatan. Ataupun adanya penderita-penderita panas tanpa sebab lainnya. 

Tidak lupa pastinya, petugas akan membagikan bubuk abate kepada yang memerlukan, dan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan cara pencegahan DBD. 

Yang gak boleh ketinggalan, petugas harus langsung mencatat hasil PE pada formulir PE sambil cekrak cekrek buat foto dokumentasi donk. Jangan lupa senyuuum yaa.. bunciiiisss.. ☺️











4 Jan 2024

Resep Rendang Jengkol Ala Aku

 


Yang namanya rendang itu, asli enak dan pasti cocok mau diisi apapun, bisa daging sapi, ayam, telur, tahu, tempe bahkan jengkol yang bau. 

Naah.. si paksu ini kalau sudah liat orang jualan jengkol di pasar,pasti merengek minta dimasakin jengkol, biasanya aku males beli, karena udah pasti jadi ujian pertoiletan dengan baunya yang aduhai. Bikin ekstra bersihin toilet kan yaa.. hahhaha..

Tapi kemaren nih, doi pergi sendiri belanja, tau-tau udah bawa pulang si jengkol rebus, trus minta dibuatin rendang jengkol.
Terpaksa deh kita kudu eksekusi, secara udah ada di depan mata kan si jengkolnya.

Cuzzz yuuk kita buat rendang jengkol.
Bahan : 
1 kg jengkol rebus, digeprek sedikit biar gepeng

Bumbu halus:
Bawang merah & putih
Jahe
Kunyit
Lada
Kemiri
Ketumbar
Cabe merah

Bumbu cemplung:
Daun salam
Serai digeprek
Lengkuas digeprek

Gula
Garam
Penyedap rasa
Santan 

Cara memasak:
1. Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan bumbu cemplung, tambahkan gula, garam.
2. Masukkan jengkol sambil diaduk.
3. Masukkan santan, terus aduk sampai menyusut dan berminyak, masukkan penyedak rasa dan koreksi rasa.
4. Setelah santan habis dna berubah menjadi berminyak, angkat. Siap sajikan.

Soal rasa.. jangan ditanya, dimakan dengan sepiring nasi hangat dan kerupuk, waah bakalan nambah tuh.